“Masihkah Kita Sadar, atau Bumi yang Lebih Dulu Menyerah?”
(Refleksi Hari Bumi Internasional, 22 April)
Oleh: Ali Aminulloh
pkbmal-zaytun.sch.id – Pagi 22 April selalu datang seperti biasa: matahari tetap terbit, langit tetap terbentang. Tapi di balik ketenangan itu, bumi menyimpan luka yang tak lagi bisa disembunyikan. Hari Bumi bukan sekadar peringatan, melainkan pengingat keras bahwa di saat manusia sibuk membangun peradaban, ia juga sedang perlahan menghancurkan rumahnya sendiri. Sering kali dengan sadar, bahkan dengan bangga.
Sejarah mencatat, gerakan ini lahir dari kemarahan atas kerusakan lingkungan. Dari tragedi tumpahan minyak hingga jutaan manusia yang turun ke jalan, dipelopori oleh Gaylord Nelson, dunia pernah sepakat bahwa bumi harus dijaga. Namun ironi terbesar justru terjadi hari ini, ketika manusia semakin pintar, teknologi semakin canggih, tetapi kebijaksanaan justru terasa semakin menjauh.
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terjadi hari ini menjadi cermin paling nyata. Konflik itu bukan hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga merusak bumi dalam skala yang nyaris tak terbayangkan. Ledakan demi ledakan tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga mencemari udara, meracuni air, dan merusak tanah yang menjadi sumber kehidupan. Dalam dua minggu pertama saja, perang ini menghasilkan jutaan ton emisi karbon, lebih besar dari emisi tahunan puluhan negara lkecil di dunia . Infrastruktur hancur, kilang minyak terbakar, dan ekosistem runtuh, meninggalkan luka panjang yang bahkan generasi mendatang harus menanggungnya .
Lebih dari itu, perang juga menjadi “pembunuh diam” bagi lingkungan. Aktivitas militer, pembakaran bahan bakar, hingga rerouting transportasi global akibat konflik justru mempercepat krisis iklim yang selama ini coba ditekan dunia . Bahkan, konflik ini memicu krisis energi global dan mengganggu jalur distribusi minyak dunia, memperlihatkan bagaimana perebutan sumber daya alam masih menjadi akar dari banyak peperangan .
Di titik inilah, manusia perlu jujur pada dirinya sendiri: mereka bukan tidak pintar. Para pemimpin dunia, para perancang strategi perang, adalah orang-orang dengan kecerdasan tinggi. Namun kecerdasan tanpa kebijaksanaan justru melahirkan kehancuran. Keserakahan untuk menguasai sumber daya alam: minyak, gas, wilayah strategis mengalahkan kesadaran bahwa bumi ini bukan milik satu bangsa, melainkan milik seluruh umat manusia.
Apa yang terjadi hari ini seolah menegaskan kegagalan manusia dalam membangun kesadaran yang lebih dalam, seperti yang digagas Syaykh Al Zaytun: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Secara filosofis, manusia lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari semesta, bukan penguasa mutlak. Secara ekologis, manusia abai bahwa setiap ledakan, setiap asap, setiap kehancuran akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan secara sosial, manusia gagal melihat bahwa dampak perang tidak berhenti di medan tempur. Ia menjalar menjadi krisis pangan, kemiskinan, bahkan kelaparan global.
Tema Hari Bumi 2026, “Our Power, Our Planet,” seharusnya menjadi tamparan sekaligus harapan. Bahwa kekuatan manusia bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menjaga. Bahwa kekuasaan bukan untuk menguasai bumi, melainkan untuk merawatnya. Namun tema itu akan kehilangan makna jika dunia tetap memilih jalan konflik, jika kepentingan ekonomi dan politik terus mengalahkan nurani.
Hari Bumi akhirnya bukan lagi sekadar refleksi, tetapi gugatan. Gugatan terhadap peradaban yang mengaku maju, tetapi masih menyelesaikan masalah dengan perang. Gugatan terhadap manusia yang merasa paling cerdas, tetapi belum mampu menjadi bijak.
Dan di tengah semua itu, bumi tetap diam. Ia tidak membalas, tidak protes. Ia hanya terus memberi, meski perlahan habis.
Pertanyaannya kini semakin tajam, bahkan mungkin menyakitkan:
“Apakah kita benar-benar makhluk berakal, atau hanya makhluk rakus yang kebetulan diberi kecerdasan?”
